Langsung ke konten utama

AKU YANG DULU, KINI DAN NANTI

Pada tanggal 3 Januari tahun 1998, disebuah rumah bersalin yang sederhana aku resmi menjadi warga Negara bumi. Rifki Ramadhan, sebuah hadiah kelahiran yang akan selalu ku sandang sepanjang hayat, diberikan oleh ibuku. Aku terlahir dari orangtua yang sangat hebat. Ayahku seorang pekerja berbadan tegap dan tinggi yang selalu menghasilkan candaan candaan lucu bernama Ma’mur. Ibuku, yang selalu berpembawaan tenang dan ramah serta kental sekali sikap keibuannya bernama Murtamah. Aku merupakan anak kedua dari empat bersaudara. mempunyai seorang kakak laki- laki bernama Muhammad Akil yang sekarang bekerja disalah satu tempat makan di Jakarta. Beradikan Shyfa Nurhaliza seorang gadis manis periang dan Maulana Ambiya seorang anak laki- laki yang gesit.

Tumbuh berkembang seperti anak- anak lainnya, pada usia tujuh tahun ibuku mendaftarkanku untuk masuk di SD Al Hasaniah Pondok Labu Jakarta. Selain mempelajari materi sekolah dasar pada umumnya, disekolahku ini juga dibekali ilmu agama yang sangat berguna untuk hidupku. Mengenyam pendidikan di SD Al Hasaniah selama enam tahun rasanya hambar jika tidak menorehkan paling tidak sedikitnya prestasi. Aku berhasil meraih juara pada OSN se Jakarta selatan, namun sayang aku belum berhasil saat maju ketingkat provinsi. Lulus dengan nilai yang cukup gemilang juga mendapatkan nilai sempurna pada ujian nasional matematika, aku melanjutkan studiku dan mendaftarkan diri ke SMP 85 Jakarta Selatan. SMP yang cukup popular dikotaku, menempa diri serta menimba ilmu di SMP 85 bukanlah perkara mudah, lingkungan sekolah ini menuntutku untuk selalu mengembangkan potensi diri serta meningkatkan kemampuan yang ada dalam diriku. Lulus dari SMP 85, aku melanjutkan karir pendidikanku dan memutuskan untuk bersekolah di SMK 41 mengambil jurusan yang sangat aku minati yaitu Multimedia. Di SMK 41, aku belajar banyak hal. Mengolah gambar dan memanipulasinya. Belajar menjadi illustrator handal, menjadi ‘tukang’ media yang apik aku pelajari semua disini.

Di penghujung sekolahku, aku tidak sama sekali memikirkan untuk melanjut kuliah. Aku lebih memilih untuk mau bekerja untuk membantu keuangan  serta kondisi ekonomi keluargaku. Akan tetapi, teman-temanku mengajak aku untuk ikut mendaftar SNMPTN. Iseng, niat awalku ikut SNMPTN. Pikirku kala itu diterima ya bersyukur, jika tidak diterima juga tidak apa. Namun, Allah memberi jalan lain. Disaat pengumuman dibuka, betapa riangnya hatiku melihat kata lulus di akun SNMPTN. Lalu aku memutuskan untuk mengambil kesempatan untuk melanjutkan pendidikanku, toh dengan berpendidikan tinggi akan lebih mudah nantinya membantu kondisi ekonomi orangtuaku.

Dari cerita diatas, dapat disimpulkan bahwa  saat ini aku sedang menempuh pendidikan tinggiku di salah satu universitas ternama di Jakarta yaitu Universitas Negeri Jakarta. Saat sedang menulis essay ini aku sedang menempuh semester 3 di jurusan Teknologi Pendidikan. Di jurusanku saat ini, aku mengambil peminatan yaitu Desainer Pembelajaran, dimana aku diajarkan, dilatih dan dituntut untuk bisa merancang sebuah pembelajaran.

Berbicara mengenai kontribusiku untuk Indonesia, saat ini yang bisa kulakukan adalah belajar. Ya, seperti umumnya mahasiswa yang lain aku belajar untuk menjadi pemimpin di masa depan. Belajar untuk menjadi pribadi yang siap menghadapi masa yang akan datang dan bisa berguna bagi bangsa. Berbicara mengenai belajar, di jurusan yang saat ini aku tempuh, aku belajar mengenai bagaimana menghasilkan cara agar setiap individu dapat belajar. Terdengar remeh bagi sebagian orang, namun menurutku hal ini sangat menarik untuk dipelajari. Aku belajar untuk bisa membelajarkan setiap orang, menghasilkan solusi dari setiap masalah belajar yang mereka hadapi, dari situ aku bisa berkontribusi untuk negara dengan menghasilkan sumberdaya yang mumpuni untuk kemajuan bangsa. Ujung tombak kemajuan bangsa adalah pendidikan, karena dari pendidikan yang baik terciptalah kehidupan ekonomi, sosial budaya dan kehidupan politik yang baik pula.

Dimasa depan, aku bercita- cita untuk memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia yang kurang baik. Mencari berbagai solusi yang cocok untuk menjadikan pendidikan di Indonesia patut diperhitungkan di mata dunia. Menurutku, salah satu caranya yaitu dengan menerapkan filsafat pancasila pada pendidikan indonesia. Seperti halnya dasar negara kita, pancasila juga sangat pas untuk diterapkan pada sistem pendidikan. Dengan begitu, segala bentuk sistem harus menyertakan pancasila didalamnya. Jika kita menerapkan filsafat pancasila pada sistem pendidikan indonesia, saya yakin pendidikan di Indonesia akan maju dan berkembang tidak hanya pada aspek kognitif (ilmu) tapi juga berkembang keluhuran budi pekerti serta moral anak bangsa sehingga kesenjangan sosial di negara ini dapat diminimalisir.

Untuk dapat mewujudkan impianku tadi, aku perlu belajar banyak hal. Dan aku perlu meringankan beban orangtuaku dalam menempuh pendidikan ini, karena menurutku biaya kuliah yang harus aku bayarkan tidaklah sedikit. Aku  berinisiatif untuk mendaftarkan diri ikut Beasiswa Bazma Pertamina, semoga dengan bantuan Bazma Pertamina aku bisa melanjutkan pendidikanku hingga selesai nanti dan berkontribusi untuk negaraku tercinta, Indonesia.


Inilah sedikit cerita tentang aku yang dulu, sekarang dan apa yang akan aku lakukan untuk negaraku kelak.

Komentar